Howl 2 (2021) datang dengan janji ambisius sebagai 'konsep ulang cerita Little Red Riding Hood'. Jujur saja, klaim ini terdengar agak muluk di awal, dan setelah menontonnya, saya pribadi merasa interpretasinya cukup jauh. Film ini lebih condong ke arah horor psikologis yang gelap, mengikuti perjalanan seorang wanita muda yang baru keluar dari sanitarium. Ia kembali ke rumah neneknya yang terpencil, dan di sinilah kegilaan mulai merayapi dirinya.
Penceritaan film ini cukup lambat, membangun atmosfer yang mencekam dengan perlahan. Kita diajak melihat pergulatan batin sang protagonis yang harus memilih: apakah ia akan sepenuhnya menyerah pada kegilaan yang menggerogoti, atau justru menerima sisi gelap yang mungkin selama ini tersembunyi? Akting para pemainnya lumayan berhasil menyampaikan ketegangan tersebut, meski beberapa momen terasa kurang menggigit. Visualnya sendiri cukup solid, menciptakan nuansa suram yang mendukung plot. Bagi penggemar horor yang mencari sesuatu yang berbeda dari film korea terbaru yang sering beredar, Howl 2 mungkin bisa jadi pilihan. Namun, jangan berharap ini adalah adaptasi Red Riding Hood yang Anda kenal. Ini adalah kisah tentang identitas dan kegilaan yang menuntut kesabaran penonton.