Film "Tony 2009" ini jujur bikin saya merinding sekaligus sedikit kasihan. Film ini berhasil menggambarkan sosok Tony, seorang pengangguran dengan masalah sosial yang parah, yang hidupnya cuma berputar di sekitar kaset-kaset film aksi VHS. Kumisnya yang aneh itu somehow menambah kesan creepy tapi juga menyedihkan. Kita diajak melihat bagaimana tekanan hidup dan mungkin isolasi sosial bisa mengubah seseorang. Tony bukan tipikal anti-hero yang keren, dia lebih ke arah individu yang rapuh dan terisolasi, yang kemudian "membentak" hingga berujung pada tindakan kekerasan.
Penggambaran karakternya terasa sangat realistis, bukan seperti pahlawan di film petualangan terbaru yang serba bisa. Film ini lebih menonjolkan sisi gelap psikologi manusia. Alurnya memang lambat di awal, membangun ketegangan dan empati kita pada Tony, sampai akhirnya ia mencapai titik didih. Ini bukan film yang nyaman ditonton, tapi sangat menggugah pikiran tentang konsekuensi dari kesepian dan kemarahan yang terpendam. Untuk kalian yang suka tontonan psikologis yang intens, atau sedang mencari film seperti ini di film korea rebahin, "Tony 2009" bisa jadi pilihan yang menarik untuk direnungkan.