Menyelami 'Amer 2009' terasa seperti memasuki sebuah lukisan surealis yang bergerak, di mana setiap adegan adalah sapuan kuas yang penuh makna. Film ini membawa kita mengikuti perjalanan Ana, bukan melalui plot konvensional, melainkan melalui tiga fase krusial dalam hidupnya yang penuh dengan pergulatan batin. Dari masa kanak-kanak yang mencoba menghidupkan kembali kakeknya, pubertas yang mendebarkan dengan penemuan pembusukan dan seksualitas, hingga pergumulan dewasa dengan kehilangan dan kesepian, 'Amer' adalah eksplorasi yang berani tentang tubuh dan nafsu.
Visualnya sangat memukau, seringkali tanpa dialog, membiarkan gambar berbicara tentang hasrat tersembunyi dan ketakutan yang mendalam. Ini adalah tontonan yang mungkin tidak cocok untuk semua orang, namun bagi mereka yang mencari pengalaman sinematik yang provokatif dan artistik, film ini patut dicoba. Jika kamu penasaran dengan tontonan berani seperti ini, kamu bisa nonton film rebahin dan menemukan banyak pilihan menarik lainnya. Jujur, sebagai sebuah film indonesia rebahin, 'Amer 2009' memang menantang batasan narasi konvensional, menawarkan refleksi mendalam tentang eksistensi manusia.